4 Alasan Mengapa Era Generasi Emas Barcelona Sudah Berakhir

209 views

Kekalahan 0-4 Barcelona atas Paris Saint-Germain (PSG) babak pertama 16 besar Champions League berbuntut panjang. itu bukan cuma sekedar kekalahan biasa bagi Blaugrana, terlebihnya bagi pengamat sepakbola Eropa yang terkejut perolehan hasil akhir tersebut.

Gol-gol yang tercipta di gawang Marc Andre ter Stegen dan diciptakan oleh dua gol Angel Di Maria, Julian Draxler, dan Edinson Cavani menerangkan suatu isyarat ada yang tidak beres Barcelona. Bahkan satu tema besar menyeruak sesudahnya, penilaian bahwa era garis keturunan emas dan kejayaan Barcelona telah selesai.

Apa benar seperti itu? Apa alasan penyebab opini tersebut? Ftb90 pun coba mengungkapkannya untuk Anda pembaca setia:
4. Produk La Masia Bisa Dihitung Jari Tangan

Barcelona dikenal Selayak salah satu Club paling baik dunia bukan cuma disebabkan permainannya yang bagus, tetapi juga disebabkan jebolan La Masia yang lakukan tembusan tim utama. Alumni La Masia mempunyai filosofi kuat akan style bermain ofensif dan penguasaan bola Barcelona, sehingga tiap musimnya para alumnus itu dinanti fans Club.

akan tetapi sejak Barcelona dikerjakan oleh Luis Enrique, produk La Masia yang lakukan tembusan tim utama bisa dihitung jari tangan. sekarang ini cuma ada Rafinha Alcantara dan Jordi Masip yang lakukan tembusan tim utama, tatkala sisanya dipinjamkan ke Club lain.

Bagaimana bisa Barcelona kembali menampakkan penerus garis keturunan emas layaknya Xavi Hernandez, Lionel Messi, Carles Puyol, Victor Valdes, dan Andres iniesta, jika alumni La Masia tak lagi dipercaya masuk skuat utama Club? Jadi, bisa dikatakan bahwa era kejayaan Barcelona telah selesai.
3. Anti-Taktik style Main Barcelona

ini sedianya ialah masalah klasik yang dihadapi Barcelona. Dahulu mereka mempunyai style bermain tiki taka, kental penguasaan bola dan permainan yang menghibur. Kini, permainan itu alami pergantian di era Enrique, yang lebih memainkan direct football dan terjangan gempuran balik mengunggulkan trisula MSN (Messi, Luis Suarez, dan Neymar).

akan tetapi ke-2 style main itu sudah dapat diprediksi lawan-lawan Barcelona. PSG contohnya, mereka cuma memberikan jawaban filosofi bermain Barcelona pertahanan yang solid dan terjangan gempuran balik yang efektif. Nah, pada waktu itu Barcelona dihadapkan permainan layaknya itu, mereka tak mempunyai opsi lain alias rancangan B.

Perihal ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Barcelona tidak pernah mempunyai rancangan B pada waktu itu permainan mereka dibaca lawan. Tentu mereka tidak dapat senantiasa mengunggulkan magis Messi, dan jika lawan-lawan sudah mengetahuinya bagaimana membuat jadi tidak berjalan atau diam permainan mereka, Barcelona akan senantiasa mengadakan perjumpaan jalan buntu pada waktu itu melawan Club lain.
2. PSG, Tanda Awal Era Baru

Tanpa memandang rendah PSG, mereka bisa dikatakan baru menjadi Club besar satu tahun paling akhir. Les Parisiens terbentuk instan kucuran dana konsorsium Timur Tengah yang membuat datang nama-nama besar ke Parc des Princess.

Mereka bukan Club yang dibentuk ideologi atau filosofi yang menjadi pondasi awal laiknya Manchester United, AC Milan, Barcelona, atau Setan Merah atau Liverpool. akan tetapi pada selanjutnya ‘uang’ berbicara, dan kumpulan bintang PSG mampu mempermalukan Barcelona.

Perihal ini bisa menjadi penanda era baru, era sepakbola modern. Club-Club yang dibangun instan kekayaan sang pemilik, bisa membuat geser dominasi dan supremasi Club histori serta tradisi yang kuat. Barcelona
1. Kehilangan Sosok Atasan atau bisa dikatakan bos utama dan Petarung

Dahulu, pada waktu itu Barcelona dalam situasi tersudut dan butuh inspirasi, mereka senantiasa mempunyai Puyol atau Xavi yang senantiasa memberi inspirasi menggunakan caranya masing-masing. Puyol jiwa petarung dan contoh permainan heroiknya di lapangan kompetisi, tatkala Xavi visi bermainnya yang sering membongkar pertahanan lawan.

sekarang ini pun mereka sedianya mempunyai iniesta dan Messi. Tapi iniesta jarang bermain akibat cedera dan kian dekat akhir kejayaannya, ia juga pasif pada waktu itu mengemban ban kapten di lapangan.

tatkala Messi tidak dapat berkutik pada waktu itu aliran bola kepwujudnya dipotong lawan, atau dia dijaga ketat lawan. oleh karena itu pada waktu itu Barcelona butuh sosok pembeda, tak ada yang mampu memberikannya dan tunjukkan akhir kejayaan Club asal Catalunya itu.

logo